SIJUNJUNG,Redaksisumbar.id — Cuaca buruk yang melanda Kabupaten Sijunjung dalam beberapa hari terakhir berujung duka. Akibat intensitas hujan yang sangat tinggi, struktur tanah di kawasan Galoro, Nagari Palangki, mengalami kolaps dan memicu bencana longsor yang merenggut dua nyawa pada Kamis (9/4/2026) sore.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.15 WIB ini menimpa dua warga berinisial DK dan RF. Keduanya tertimbun material tanah saat sedang beraktivitas di sebuah kawasan bekas tambang yang kondisinya memang telah rapuh akibat faktor alam.
Struktur Tanah Labil Akibat Hujan Lebat
Bencana ini bermula dari kondisi geologis yang tidak stabil setelah diguyur hujan terus-menerus. Menurut keterangan Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah, S.I.K., M.H., faktor alam menjadi pemicu utama ambruknya dinding tanah di lokasi kejadian.
”Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat labil. Hal ini memicu terjadinya longsor mendadak yang langsung menimbun para korban di bawahnya,” ungkap Kapolres.
Perjuangan Melawan Material Longsor
Sesaat setelah bencana terjadi, suasana mencekam menyelimuti lokasi. Warga sekitar yang berada di lokasi segera melakukan upaya penyelamatan darurat dengan alat seadanya. Mengingat tebalnya material longsoran, proses evakuasi akhirnya harus melibatkan dua unit alat berat ekskavator untuk menembus timbunan tanah.
Setelah perjuangan keras melawan material lumpur dan tanah, kedua korban akhirnya berhasil ditemukan, namun nyawa mereka tidak tertolong.
Bahaya Tersembunyi di Lahan Bekas Tambang
Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar yang tersimpan di lahan-lahan bekas tambang yang sudah ditinggalkan. Karena alasan ekonomi, beberapa warga mencoba kembali ke area tersebut tanpa menyadari bahwa alam telah mengubah kawasan itu menjadi zona merah yang rawan bencana.
Saat ini, pihak Polres Sijunjung masih melakukan penyelidikan lebih lanjut di lokasi kejadian. Sebagai langkah antisipasi agar tragedi serupa tidak terulang, kepolisian mengeluarkan peringatan keras:
- Hindari Zona Rawan: Masyarakat diminta menjauhi tebing atau lahan dengan kemiringan ekstrem, terutama saat musim penghujan.
- Waspada Anomali Cuaca: Curah hujan yang tidak menentu dapat mengubah struktur tanah dalam waktu singkat.
- Keselamatan Utama: Mengimbau warga untuk tidak memaksakan aktivitas di area terbuka yang memiliki riwayat pergerakan tanah.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah peralatan di lokasi telah diamankan oleh petugas sebagai bagian dari prosedur pemeriksaan pascabencana.




