Warga Nagari Galugua Resah, Tambang Emas Ilegal Kembali Beroperasi Pasca Terjunnya Aparat

banner 468x60

Limapuluh Kota. Redaksisumbar.id – Aktivitas tambang emas yang diduga ilegal di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, kembali memicu keresahan warga. Ironisnya, aktivitas tambang tersebut dilaporkan kembali beroperasi secara terang-terangan hanya berselang satu hari setelah pihak kepolisian melakukan pemeriksaan di lokasi.

​Berdasarkan informasi yang dihimpun, aparat kepolisian sempat meninjau lokasi tambang pada Jumat (27/2). Namun, pada Sabtu (28/2) sore, kegiatan penambangan terpantau kembali berjalan normal seolah mengabaikan upaya penertiban yang dilakukan sebelumnya.

​Air Keruh dan Aktivitas 24 Jam

​Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kehadiran tambang ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Selain beroperasi hampir 24 jam penuh, dampak lingkungan yang ditimbulkan mulai terasa nyata, terutama pada kualitas air sungai.

​”Air menjadi sangat keruh sehingga tidak bisa digunakan untuk mencuci pakaian, piring, dan kebutuhan lainnya. Jangankan untuk aktivitas lain, untuk bercebok saja rasanya ngeri,” ujar warga tersebut kepada media pada Minggu (1/3).

​Warga berharap ada kebijakan dari para penambang untuk membatasi jam operasional. Mereka meminta agar aktivitas tambang dilakukan pada malam hari hingga pagi, sehingga masyarakat tetap bisa memanfaatkan aliran air untuk beraktivitas pada siang hari tanpa terganggu kekeruhan yang parah.

​Dilema Ekonomi dan Sikap Pemerintah Nagari

​Di sisi lain, persoalan tambang ini menyisakan dilema bagi otoritas setempat. Sebagian besar masyarakat Nagari Galugua sebenarnya berprofesi sebagai petani. Namun, rendahnya penghasilan dari mendulang emas secara tradisional membuat sebagian warga beralih atau bergantung pada aktivitas tambang skala besar tersebut.

​Wali Nagari Galugua, Wendri, menyatakan bahwa pemerintah nagari berada dalam posisi yang sulit untuk menghentikan kegiatan tersebut secara sepihak.

​”Pemerintahan nagari setempat tidak berani mengganggu aktivitas tambang karena itu merupakan mata pencaharian masyarakat,” ungkap Wendri. Ia mengakui bahwa meski berdampak pada lingkungan, tambang tersebut kini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi sebagian warga setempat.

​Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu langkah tegas dan solusi nyata dari pihak terkait agar kelestarian lingkungan tetap terjaga tanpa mematikan ekonomi masyarakat. (*)

 

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *